artikel lengkap |
 
   
 
Masuk Halaman Artikel Agroteknologi
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil


Mendengar nama negara Brazil pastilah yang pertama kali kita bayangkan adalah negara dengan kekuatan dan talenta sepakbola yang luar biasa. Buaian tarian pemain sepakbola dilapangan bola menjadikan Brazil lebih dikenal seantero dunia dengan sepakbola gaya sambanya yang indah. Namun ada yang luar biasa selain sepakbola ada di Brazil dan sangat dibutuhkan oleh Indonesia yaitu sumber energi alternatif.

Indonesia bukan negara kaya minyak


Beberapa hari ini kita sering membicarakan pendapat-pendapat Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo yang meninggal saat pendakian gunung tambora. Salah satunya adalah saat Widjajono Partowidagdo mengingatkan masyarakat Indonesia tentang persepsi keliru bahwa Indonesia merupakan negara kaya minyak. Sebenarnya Indonesia bukan negara yang kaya minyak. Pernyataan Widjajono Partowidagdo ini sesuai dengan data energi nasional 2010, cadangan minyak Indonesia terbukti 3,7 milyar barel atau 0,3% cadangan minyak terbukti dunia (finance.detik.com). Angka ini jauh di bawah negara penghasil minyak dunia untuk cadangan minyak dan perbandingan dengan cadangan minyak dunia yang dikutip dari economy.okezone.com berdasarkan data dari Energy Information Administration dan CIA World Factbook yaitu Arab Saudi (262,6 milyar barel atau 17,85%), Venezuela (211,2 miliar barel, atau 14,35%), Kanada (175,2 miliar barel atau 11,91 %), Iran ( 137 miliar barel, atau 9,31 %), Irak (115 miliar barel, atau 7,82 %), Kuwait (104 miliar barel, atau 7,07%), Uni Emirat Arab (97,8 miliar barel, atau 6,65%), Rusia (60 miliar barel, atau 4,08%), Libia (44,3 miliar barel, atau 3,15%), Nigeria (37,2 miliar barel, atau 2,53%), Kazakhstan (30 miliar barel, atau 2,04%), Qatar (25,38 miliar barel, atau 1,72%), Amerika Serikat (20,68 miliar barel, atau 1,41%), China (14,8 miliar barel, atau 1,01 %), dan Brazil (12,86 miliar barel, atau 0,87%).

Brazil yang memiliki cadangan minyak lebih besar dibandingkan Indonesia hingga hampir 3 kali lipat telah berupaya menekan ketergantungan terhadap sumber energi tidak terbarukan ini. Sejak tahun 1976, pemerintah Brazil telah mewajibkan semua mobil di Brasil harus bisa menggunakan bahan bakar campuran etanol dengan bensin, yang besarannya beragam, mulai dari 10% sampai 22%. Hingga Juli 2007, penggunaan bahan bakar mobil menjadi 25% etanol dan 75% bensin. SPBU di Brasil yang dikelola Petrobras menyediakan 2 tipe bahan bakar yaitu etanol dan bensin.

Bioetanol di Indonesia


Sebenarnya bioetanol juga bukan hal yang baru di Indonesia. Pada akhir Januari 2005, menteri Negara riset dan teknologi Dr. Kumayanto Kadiman memamerkan bahan bakar Gasohol BE-10 yang merupakan bahan bakar bioetanol. Dan bulan Maret lalu, wagub Jawa Barat, Dede Yusuf mempromosikan penggunaan bioetanol sebagai pengganti BBM yang ada selama ini dengan perbandingan 1:1 antara bioetanol dan bensin untuk mobil dinas dan motor trail miliknya. Dalam aplikasi di masyarakat, bioetanol mulai diproduksi oleh Soelaiman Budi di desa Doplang, Karanganyar dari bahan singkong dan dapat digunakan sebagai bahan bakar motor. Penggunaan bioetanol ini dapat menekan ketergantungan terhadap harga BBM yang terus melambung dimana ketika harga minyak mentah US$69,81/barel, harga bensin tanpa subsidi Rp 6.500,-/liter dan bioetanol Rp 5.600,-/liter (asumsi 1US$1 = Rp10.000).

Bioetanol dapat diolah dari berbagai jenis tanaman berpati (ubikayu, jagung, sorgum biji, sagu), tanaman bergula (tebu, sorgum manis, bit) serta serat (jerami, tahi gergaji, ampas tebu). Brazil mengandalkan produksi tebu sebagai bahan baku bioetanol. Hal ini dimungkinkan dengan geografis negara Brazil yang lebih banyak daratan sehingga memungkinkan penanaman tebu dalam skala besar dilakukan.

Selain tanaman berpati yang ditanam di daratan, terdapat tanaman berpati yang dapat dibudidayakan di lautan yaitu rumput laut. Bioetanol dari rumput laut telah terbukti lebih murah biaya dan menguntungkan dibanding dari tebu dan kayu karena pertumbuhannya lebih cepat sehingga memungkinkan panen sampai enam kali dalam setahun. Apalagi rumput laut tumbuh subur di berbagai lokasi perairan Indonesia. Biaya produksi bioetanol dari rumput laut lebih murah dibanding dari kayu karena rumput laut tidak mengandung lignin sehingga proses pengolahannya tidak direpoti penanganan pendahuluan.

Menurut Dr. Ir. M.Arif Yudiarto M.Eng (Kabid Teknologi etanol dan derivat, Balai Besar Teknologi Pati), tanaman berpati dan bergula memiliki produktifitas rata-rata bioetanol 5.000 liter/ha per- tahun. Jika konsumsi seluruh bensin di Indonesia sebesar 16 juta kilo per-tahun (asumsi kebutuhan bensin sebesar 40% dari total prediksi BBM Indonesia sebesar 40 juta kilo liter) dapat diproduksi dengan budidaya bahan baku seluas 3,2 juta hektar. Maka luas lahan buddiaya bahan baku bioetanol di Indonesia hanya membutuhkan 1,7% dari luas daratan Indonesia atau 0,064% luas lautan Indonesia saja.

Kompetisi bahan baku atau peningkatan kesejahteraan


Memang terjadi pro dan kontra terhadap upaya pengembangan bioetanol sebagai biofuel. Komoditas tebu yang digunakan sebagai bahan baku bioetanol di Brazil lebih banyak digunakan sebagai bahan gula di Indonesia. Selain itu terjadi kekhawatiran adanya persaingan bahan baku makanan dengan bahan baku bio etanol. Produksi bioetanol besar-besaran juga berpotensi menyebabkan penurunana keanekaragaman hayati melalui monokultur bahan baku.

Namun kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar memberikan peluang kesejahteraan bagi masyarakat untuk ikut membudidayakan bahan baku bioetanol. Lahan-lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Terutama pada bahan baku dari rumput laut dimana perairan laut Indonesia yang sedemikian luas, menjadi potensi sumber penghasilan masyarakat Indonesia. Teknik budidaya rumput laut yang mudah dan biaya produksi yang murah serta kemampuan panen hingga 6 kali setiap tahunnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia melalui penyediaan bahan baku rumput laut untuk bioetanol.

Komitmen perubahan


Untuk merubah bensin murni menjadi kombinasi dengan bietanol membutuhkan komitmen kuat pemerintah dalam pngembangannya. Subsidi BBM dapat digunakan sebagian untuk pembangunan pabrik-pabrik bioetanol diberbagai daerah mendekati lokasi bahan baku. Selanjutnya dibentuk kluster-kluster pembudidaya rumput laut di berbagai daerah perairan yang sesuai untuk produksi bahan baku bioetanol dari rumput laut. Proses sedemikian memang tidak mudah dan singkat, namun dengan keinginan kuat melepaskan ketergantungan pada bensin yang dapat diartikan ketergantungan pada produk impor serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui lapangan usaha budidaya bahan baku bioetanol dan peningkatan subsidi pendidikan dan kesehatan dari pengurangan subsidi BBM akibat lebih terjangkaunya harga bioetanol.

Alangkah indahnya kehidupan disaat harga barang dan kebutuhan pokok tidak lagi tergantung harga minyak dunia. Kita bisa memilih bahan bakar yang kita inginkan apakah itu bensin atau kombinasi bioetanol dan bensin.




Penulis : Ardiansyah Kurniawan
Dosen FPPB UBB
Website : http://ardiansyah.ubb.ac.id





Dikirim oleh Ardiansyah Kurniawan
Tanggal 2012-04-24
Jam 21:59:45



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :
 
 
       

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Homepage Website Program Studi Agroteknologi FPPB Universitas Bangka Belitung Homepage Agroteknologi
Masuk Halaman Artikel Agroteknologi
Masuk Halaman Berita Agroteknologi