artikel lengkap |
 
   
 
Masuk Halaman Artikel Agroteknologi
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Berebut Kursi Walikota


Setidaknya ada dua alasan mendasar mengapa kompetisi Pemilukada Pangkalpinang lebih ramai daripada daerah lain yang juga sedang menanti hajatan serupa. Pertama, Pangkalpinang adalah ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dimana daerah ini dianggap sebagai daerah utama provinsi. Memimpin walikota berarti memimpin sebuah kota dimana dinamika provinsi ini berporos. Sebagian orang mengatakan bahwa menjadi gubernur DKI Jakarta berarti setengah tiket untuk maju ke pentas politik nasional. Maka tak salah jika menguasai Pangkalpinang berarti pula sedang bersiap untuk naik pangkat politik.

Kedua, Pangkalpinang adalah daerah yang diincar banyak orang lantaran beberapa keunggulan mendasar, antara lain pembangunan yang lebih terkonsentrasi dalam geografi yang kecil, pemilih yang relative nasional, pembangunan yang tinggal dilanjutkan, dan akses ke media yang jauh lebih baik. Kesemua ini menjadi daya pikat Pangkalpinang.

Tak heran, Pemilukada yang baru akan berlangsung pada bulan Juni 2013 mendatang sudah ramai oleh tebaran berbagai bakal calon yang siap berlaga. Saya kira kita semua harus mengakui bahwa dinamika kandidasi di Pangkalpinang jauh lebih dinamis dibandingkan dengan Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung.
Pencitraan Tokoh

Lebih dari setahun lalu, Pangkalpinang sudah mulai dikelilingi oleh berbagai agenda percitraan. Tokoh dari berbagai kalangan mulai mematut-matut diri untuk masuk dalam lingkaran kandidasi. Caranya juga rupa-rupa. Ada yang memasang baliho di sepanjang jalan, ada yang menggunakan media SMS, ada yang memanfaatkan media massa, bahkan yang lebih sering adalah memanfaatkan organisasi-organisasi tertentu untuk mencuatkan diri kepublik.

Muncul pertanyaan, sejauhmana sebenarnya pencitraan jauh-jauh hari menjadi penting? Saya yang berasal dari komunitas pendidik, juga barangkali banyak kawan-kawan lain akan sepakat bahwa semua agenda pencitraan ini bikin jenuh, bikin pusing, dan sedikit bikin mangkel. Tapi betulkah demikian?

Suara akar rumput dengan suara komunitas tertentu pastilah berbeda. Nyatanya, berbagai agenda pencitraan memang berhasil mendapatkan tempat yang kuat dihati masyarakat. Sering dilihat, sering diliput, sering ditempel tentu juga akan berpengaruh pada popularitas. Pencitraan jauh-jauh hari ini dibutuhkan sebagai panggung bagi mereka yang selama ini nyaris absen dimuka publik. Mereka yang tergolong pendatang baru dalam bursa politik Babel mau tidak mau harus melakukan pencitraan jauh-jauh hari.

Tapi mengapa kemudian ada banyak tokoh-tokoh potensial yang kini masih redup? Mengapa mereka belum muncul? Kenapa pencitraan belum jalan? Ada beberapa kemungkinan. Pertama bias saja mereka ingin melakukan revolusi sunyi atau kedua, mereka tidak ingin latah dan termakan oleh kompetisi yang mahal jauh sebelum peluit pertarungan ditiup. Saya cuma ingin mengingatkan bahwa popularitas tidak berbanding lurus dengan elektabilitas. Banyak orang yang popular, tapi tingkat keterpilihannya rendah. Ada instrumen dari pemilih yang saling bersenyawa untuk menentukan arah coblosan di hari H. pemilih kita sangat rasional dan changeable. Mereka akan dengan mudah memindahkan pilihan di detik-detik akhir sekalipun.Poin saya adalah popular tidak menjamin akan memenangkan kompetisi. Yang paling penting adalah bagaimana menggunakan strategi yang tepat diwaktu yang tepat.

Gerilya Parpol


Beberapa bulan terakhir dan beberapa bulan mendatang, yang akan terjadi adalah proses seleksi di tingkat partai politik. Banyak parpol yang kini sudah membuka pendaftaran, beberapa masih wait and see. Waktu yang masih lama tidak berarti harus menunggu lama juga. Mengapa? Karena proses penentuan kandidat lebih dini akan baik.

Pertama seleksi yang lebih dini memberi kesempatan kandidat yang diusung untuk lebih dikenal oleh pemilih. Waktu sosialisasi sebelum masa kampanye akan lebih panjang. Soliditas kader partai pengusung juga akan lebih mengakar. Kedua, seleksi lebih awal memastikan bahwa kandidat yang akan menggunakan partai mana akan lebih cepat terakomodir. Ada implikasi lanjutan dibalik kata ‘diakomodir’ ini, yakni biaya kereta yang sudah bias dipastikan. Tapi, biasanya partai-partai yang menentukan di akhir akan lebih mahal dibandingkan dengan partai yang lebih dulu menentukan pilihan.

Ada pertanyaan sederhana: bagaimana sebetulnya urgensi partai politik bagi proses pencalonan? Saya kira sangat urgen, setidaknya karena alas an kendaraan politik. Harga kereta itu mahal. Partai politik merawat konstituen mereka, tentu tidak dengan sedikit pengorbanan. Uang, tenaga, dan waktu dicurahkan sangat panjang. Maka, ketika ada orang lain yang menggunakan kereta mereka, maka harus ada kesiapan kandidat untuk membayar biaya kereta. Saya kira disini lumrah, walau terkesan pragmatis.

Kandidat dengan jalur independen saya kira lebih sulit. Mengumpulkan bukti dukungan memerlukan waktu yang lama, biaya yang besar, dan proses yang rumit. Belum lagi peluang untuk ditelikung kawan ditengah jalan. Biaya pengurusan dukungan mungkin akan sama besar dengan pembelian biaya kereta.

Setelah proses kandidasi di partai politik dan mungkin jalur independen selesai, maka bola selanjutnya berada ditangan kandidat. Suara partai politik tidaklah menjadi indikator suara yang akan diperoleh kelak, kecuali barangkali PKS yang selama ini terkenal dengan sistem kaderisasinya yang solid dan militant. Pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa suara partai tidak selalu menjadi barometer perolehan suara dalam Pemilukada.

Imbauan


Tetapi tak ada salahnya saya mengingatkan beberapa hal untuk kita semua yang memiliki taensi besar pada proses rekrutmen kepala daerah ini. Pertama, partai politik sebaiknya selektif untuk menentukan kandidat yang potensial. Memang dalam pertarungan selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Tapi kalahnya kandidat yang diusung berarti kesalahan memilih calon. Mumpun masih proses penjaringan, saya ingatkan agar parpol jangan tergoda oleh duit kandidat yang besar, juga tidak silau dengan survey yang lebih banyak dipesan untuk kepentingan pencalonan.

Kedua, kandidat yang hendak maju sebaiknya tetap santun dalam berpolitik. Jangan kemudian menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian pemilih. Biarkan semua berjalan secara alamiah, jangan memanipulasi proses pencitraan untuk mengkarbit diri. Dan yang paling penting, mari bermuhasabah diri: Siapa kita? Seberapa kemampuan kita?

Ketiga, kepada para pemilih, saya juga kembali mengingatkan pentingnya rasionalitas terus diperteguh. Memilih tentu bukan urusan susah, tetapi merasakan dampak dari pilihan juga bukan urusan yang sebentar. Perlu refleksi mendalam untuk menentukan kandidat. Tidak perlu silau dengan kemilau permata yang Nampak indah diluar. Yang penting bagaimana menemukan cahaya yang hakiki, bukan fatamorgana.

Opini BAPOS, Selasa (31/07/2012)


Penulis : Ibrahim
Dosen FISIP UBB



Dikirim oleh Ibrahim
Tanggal 2012-07-31
Jam 11:28:10



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :
 
 
       

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Homepage Website Program Studi Agroteknologi FPPB Universitas Bangka Belitung Homepage Agroteknologi
Masuk Halaman Artikel Agroteknologi
Masuk Halaman Berita Agroteknologi